Cerita Sabung Ayam Di Zaman Kerajaan

Cerita Sabung Ayam Penduduk Jawa mengenali folklore Cindelaras. Ambil skema dan background riwayat di kurun Kerajaan Jenggala era kesebelas, cerita ini ceritakan masalah sabung ayam dan rekannya Situs Slot Online Terpercaya dengan ikon kuasa. Tidak terkecuali buat penduduk Sunda, juga dihadapi folklore Ciuang Wanara. Ambil skema dan background riwayat di masa Kerajaan Galuh era kedelapan. Ke-2 folklore ini sama ceritakan terkait putra raja yang terbuang, dan lantaran jalan takdirnya mereka kembali lagi disandingkan dengan ayahnya yang orang raja, lewat peristiwa praktek sabung ayam.

Tidak terkecuali sumber lain, sebut La Galigo di Bugis. Profil inti epik itu, yakni Sawerigading, dikisahkan miliki hoby sabung ayam. Bahkan juga, barangkali saja dahulu orang Bugis belum dapat dikatakan pemberani (tobarani) kalau tak miliki tradisi mengadu ayam (massaung manu’). Dapat saja tidak cuma Bugis, akan tetapi buat penduduk Jawa, Bali, Sunda, dan yang lain, ayam jantan dahulu pernah miliki federasi buat menggambarkan terkait citra keberanian atau kejantanan.

Kalau folklore atau epik dari masa silam jadi bisa satu diantara sumber referensi riwayat, karenanya dapat diartikan, secara monumental simbolisme pada ayam mendatangkan pemaknaan yang keramat menjadi representasi simbolik terkait kemampuan. Keramatitas arti sabung ayam ini sedikitnya tampil di Bali, semisalnya.

Geertz waktu mengerjakan kajian etnografi di Bali mengutarakan keutamaan taji. Taji, yang dibentuk dari logam besi sejauh empat atau lima inchi dan terpasang di ke-2 kaki ayam itu, cuman diperasah di saat peristiwa gerhana bulan atau sewaktu bulan tak penuh. Terkecuali itu, taji itu harus dirawat sebegitu rupa oleh pemiliknya dan dijaga biar tak disaksikan atau digenggam para wanita.

Dari lapangan riwayat, mengarah esai Clifford Geertz dijelaskan kata ‘sabung’ adalah makna buat ayam jantan. Dan, lebih jauh dia tuturkana, makna sudah tampil dalam inskripsi-inskripsi di Bali di 922 M. Makna ini digunakan secara metaforis buat mendeskripsikan “pahlawan”, “serdadu”, “juara”, atau “orang kuat”. Sayang Geertz tidak memperjelas dari sumber prasasti mana inskripsi itu.

Berbicara latar riwayat sabung ayam, Ani Rachmat dan Agusmanon Yuniadi (2018) dalam artikelnya Simbolisme Ayam Jago dalam Pembangunan Kultural Penduduk Kabupaten Cianjur, dan I Wayan Gede Saputra K.W (2016) dalam artikelnya Sabung Ayam Di Penduduk Bali Kuno Era IX-XII, datang di rangkuman yang serupa. Serupa Geertz, menurutnya praktek sabung ayam di Bali sudah berjalan mulai sejak era 10. Apabila Rachmat dan Yuniadi mengarah Prasasti Sukawana dan Prasasti Batur Abang; Saputra mengarah Prasasti Trunyan dan Prasasti Sembiran.
Sayang kembali, berbicara skema lokalitas Bali, Geertz tak menuturkan seberapa jauh ada ketaksamaan arti di antara sabung ayam berbentuk ‘tetajen’ dan ‘tabuh rah’. Terang, ke-2 ritual sabung ayam ini berlainan skema dan arti. Di satu segi, tetajen merupakan ritual sosial yang punya sifat profan berwujud perjudian, dan di lain sisi tabuh rah merupakan ritual yang punya sifat keramat dan keagamaan.
Masuk babakan riwayat selanjutnya. Dalam Kitab Pararaton, Ken Arok, saat sebelum jadi Raja Singasari di era ke-13, kabarnya merupakan tukang sabung ayam. Juga riwayat menulis, di Kerajaan Shingasari pernah berlangsung kejadian politik besar waktu peristiwa sabung ayam. Raja Singhasari yang berkuasa waktu itu, Anusapati, dibunuh adik tirinya, Tohjaya, waktu raja itu lihat sabung ayam.
Raja Hayam Wuruk yang berkuasa di Kerajaan Majapahit 1350-1389 tarik dibaca. Di waktu itu wajar pemberian nama orang pinjam beberapa nama binatang spesifik. Sebut Kebo Anabrang, Lembu Sora atau Gajah Mada, semisalnya. Penentuan beberapa nama binatang kerbau dan gajah, pasti miliki federasi akan kebesaran beberapa tokoh itu. Akan tetapi nama raja paling besar di masa Majapahit. Hayam Wuruk yang berpredikat Maha Raja Sri Rajasanagara, malahan pakai nama ayam. Sudah diketahui, Hayam Wuruk berarti “Ayam yang Cendekiawan”.